KUNINGAN — Kabar duka bagi keluarga besar Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Ayahanda beliau, Drs. H. Sukardi Kartapermata Bin Kartasaid, berpulang ke Rahmatullah, Kamis (27/11/2025).
Almarhum wafat dalam usia 94 tahun dan dikenal sebagai sosok panutan yang telah banyak berkontribusi bagi masyarakat Kabupaten Kuningan. Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai figur pendidik, pembimbing, politik dan teladan yang turut melahirkan sejumlah pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Sebelum disemayamkan di Pemakaman Umum Kelurahan Ciporang, para kerabat, sahabat, pejabat daerah, serta masyarakat luas hadir memberikan penghormatan terakhir.
Dalam kesempatan tersebut, H. Yayan Sofyan, Ketua BAZNAS Kabupaten Kuningan mewakili jajaran yang hadir, menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergian almarhum.
“Setiap yang hidup pasti akan mati, dan setiap pertemuan ada perpisahan. Bapak Drs. H. Sukardi Kartapermata Bin Kartasaid telah kembali kepada Sang Maha Kuasa dengan tenang ba’da Subuh. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ungkapnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk turut mendoakan almarhum.
“Semoga segala amal ibadahnya diterima Allah SWT, segala khilafnya diampuni, dan almarhum ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Kami memohon doa dari seluruh masyarakat Kabupaten Kuningan,” tambahnya.
Doa dan ucapan belasungkawa juga mengalir dari warga, seperti melalui berbagai platform media sosial. Salah satu dari Akun cla_rin_ta menulis pesan “Innalillahi wainnailaihi rojiun. Al-Fatihah untuk Pak Kardi. Beliau sudah sepuh, tetapi ingatannya masih kuat dan pemikirannya cerdas.”
Akun lainnya dari chanoopush menulis pesan, “Selamat jalan Uwa Kardi. Semoga Allah melapangkan kuburmu. Terima kasih atas segala kebaikan yang telah engkau berikan.”
Momen duka ini terasa semakin menyentuh mengingat belum lama berselang, pada peringatan Hari Ayah, Bupati Kuningan sempat memutar video dokumentasi kebersamaan dengan almarhum dari kumpulan Poto bersama bersama dengan sang ayah dari masa ke masa.
Dalam tayangan tersebut tergambar sosok ayah yang hangat, pendidik, sekaligus sumber inspirasi bagi keluarga. Terdapat pesan penutup dalam video tersebut yang kini terasa begitu mendalam, “Terima kasih Ayah, Engkau Selalu Menjagaku”.
Informasi terkumpul, sosok almarhum H. Sukardi Kartapermata kembali mendapat ruang dalam ingatan kolektif masyarakat Kuningan. tampak jelas bahwa almarhum bukan sekadar ayah dari seorang bupati, melainkan figur yang meninggalkan jejak panjang dalam dunia pendidikan dan gerakan keagamaan.
Dalam tutur halusnya, Alan menggambarkan H. Sukardi sebagai pribadi yang hangat dan sepenuh hati mengabdikan diri untuk pendidikan. Ia pernah memimpin GP Ansor Kuningan, sementara sang istri menjadi pimpinan Fatayat NU pada masanya. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang hidup dalam nilai-nilai pengabdian, keteladanan, dan rasa tanggung jawab sosial.
Pesan yang hingga kini masih tertanam kuat. Saat Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, H. Sukardi memberikan nasihat yang sederhana namun sarat makna yakni agar pendidikan tidak boleh menjadi batas bagi santri untuk melangkah lebih jauh.
Gagasan itu kemudian menjelma menjadi langkah nyata. Pesantren di Parakan, Cipicung, dan berbagai titik lain mulai memiliki PKBM yang memberi kesempatan santri untuk memiliki ijazah formal tanpa meninggalkan pelajaran kitab kuning. Sebuah jembatan antara tradisi dan masa depan yang lahir dari kepedulian seorang pendidik bernama H. Sukardi.
Almarhum H. Sukardi adalah teladan yang tidak hanya ditokohkan, tetapi juga dirasakan. Sosok yang lembut dalam tutur, namun kuat dalam prinsip. Sosok yang tidak suka menonjolkan diri, tetapi justru menjadi tempat pulang bagi banyak orang yang membutuhkan nasihat dan ketenangan.
Dalam politik, almarhum menunjukkan kedewasaan yang tak semua tokoh mampu memilikinya. Meski menjadi salah satu deklarator PKB di Kuningan, ia tetap menanamkan nilai bahwa persaingan politik hanyalah bagian kecil dari pengabdian. Setelah Pilkada, ia berpesan agar anaknya, Bupati Dian, tetap menjaga hubungan dan berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar yang harus dihormati.
Alan juga mengenang betapa almarhum selalu mengikuti perkembangan kabupaten meski sudah tidak aktif di jabatan publik. Sikap rendah hati, kesabaran, dan ketawadhuan yang selalu ditunjukkannya menjadi bekal moral yang diwariskan kepada anak-anaknya. (*)












